Rabu, 13 Maret 2013

Agama Islam kelas XI : PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN (1800-sekarang)

A. Sekilas tentang Dunia Islam pada
Masa Modern
Masa pembaharuan (modern)
bagi dunia Islam adalah masa yang
dimulai dan tahun 1800 M sampai
sekarang. Masa pembaharuan ditandai
dengan adanya kesadaran umat Islam
terhadap kelemahan dirinya dan adanya
dorongan untuk memperoleh kemajuan
dalam berbagai bidang, khususnya dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada masa pembaharuan ini, telah
muncul tokoh tokoh pembaharu dan
pemikir Islam di berbagai negara
Islam. Pada awal masa pembaharuan,
kondisi dunia Islam, secara politis
berada dibawah penetrasi kolonialisme.
Baru pada pertengahan abad ke-20 M,
dunia Islam bangkit memerdekakan
negaranya dan penjajahan bangsa Barat
(Eropa).
Di antara negara-negara Islam
atau negara-negara berpenduduk
mayoritas umat Islam, yang
memerdekakan dirinya dari penjajahan,
seperti :
o Indonesia, memperoleh
kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945.
o Pakistan pada tanggal 15 Agustus
1947.
o Mesir secara formal memperoleh
kemerdekaan dari Inggris tahun
1922 M. Namun, bangsa Mesir
baru merasa benar-benar
merdeka pada tanggal 23 Juli
1952, yakni setelah Jamal Abdul
Nasir menjadi penguasa, karena
dapat menggulingkan Raja Faruq
yang dalam masa pemerintahannya
pengaruh Inggris sangat besar.
o Irak merdeka secara formal dari
penjajah Inggris tahun 1932 M,
tetapi sebenarnya baru benar-
benar merdeka tahun 1958 M.
o Syria dan Libanon, merdeka dari
penjajah Prancis tahun 1946 M.
o Beberapa negara di Afrika
merdeka dari penjajah Prancis,
seperti Lybia tahun 1951 M,
Sudan dan Maroko tahun 1956
M, dan Aijazair tahun 1962 M.
o Di Asia Tenggara, negara-negara
yang berpenduduk mayoritas
Islam, yang merdeka dari
penjajah Inggris adalah Malaysia
tahun 1957 M dan Brunei
Darussalam tahun 1984 M.
o Di Asia Tengah, negara-negara
yang merdeka dari Uni Soviet
tahun 1992 M adalah Uzbekistan,
Kirghistan, Kazakhtan, Tajikistan,
dan Azerbaijan sedangkan Bosnia
merdeka dari penjajah Yogoslavia
juga tahun 1992 M.
Setelah negara-negara yang
berpenduduk mayoritas umat Islam
tersebut memperoleh kemerdekaan,
maka umat Islam bersama-sama
dengan pemerintah negaranya
melakukan usaha-usaha pembangunan
dalam berbagai bidang, demi
terwujudnya masyarakat bangsa yang adil
dan makmur di bawah naungan rida
Allah SWT.
B. Perkembangan Ajaran Islam pada Masa
modern
Menjelang dan pada awal-awal
masa pembaharuan yaitu sebelum dan
sesudah tahun 1800 M, umat Islam di
berbagai negara, telah menyimpang dari
ajaran Islam yang bersumber kepada
Al-Qur’an dan Hadis. Penyimpangan itu
terdapat dalam hal :
ü Ajaran Islam tentang ketauhidan
telah bercampur dengan
kemusyrikan. Hal ini ditandai
dengan banyaknya umat Islam
yang selain menyembah Allah
SWT juga memuja makam yang
dianggap keramat dan meminta
tolong dalam urusan gaib kepada
dukun-dukun dan orang-orang
yang dianggap sakti. Selain itu,
ada juga kelompok umat Islam
yang meng kultuskan dan
beranggapan bahwa sultan adalah
orang suci yang segala perintahnya
harus ditaati.
ü Adanya kelompok umat Islam, yang
selama hidup di dunia ini, hanya
mementingkan urusan akhirat dan
meninggalkan dunia. Mereka
beranggapan hahwa memiliki harta
benda yang banyak, kedudukan
yang tinggi dan ilmu pengetahuan
tentang dunia adalah tidak perlu,
karena hidup di dunia ini hanya
sebentar dan sementara,
sedangkan hidup di akhirat bersifat
kekal dan abadi. Selain itu, banyak
umat Islam yang menganut paham
fatalisme, yaitu paham yang
mengharuskan berserah diri
kepada nasib dan tidak perlu
berikhtiar, karena hidup manusia
dikuasai dan ditentukan oleh nasib.
Penvimpangan-penyimpangan
umat Islam terhadap ajaran agamanya
seperti tersebut, mendorong lahirnya
para tokoh pembaharu, yang berusaha
menyadarkan urnat Islam agar kembali
kepada ajaran Islam yang benar, yang
bersumber kepada Al-Quran dan As-
Sunnah (Hadis). Tokoh-tokoh
pembaharu yang dimaksud antara lain:
1. Muhammad bin Abdul Wahhab
lahir di Nejd (Arab Saudi) pada
tahun 1115 H (1703 M) dan
wafat di Daryah tahun 1201 H
(1787 M). Muhammad bin Abdul
Wahhab adalah seorang ulama
besar yang produktif, karena
buku-buku karangannya tentang
Islam, mencapai puluhan judul. Di
antara buku bukunya berjudul “Kitab
At-Tauhid” yang isinya antara lain
tentang pemberantasan syirik,
khurafat, takhayul, dan bid’ah yang
terdapat di kalangan umat Islam
dan mengajak umat Islam agar
kembali kepada ajaran tauhid yang
murni. Para pengikut Muhammad
bin Abdul Wahhab, menamakan
kelompoknya dengan “A1-
Muwahhidun” atau “Al-Muslimun”,
yang artinya kelompok yang
berusaha mengesakan Allah SWT
semurni-murninya. Gerakan
pemurnian ajaran Islam yang
dilakukan oleh para pengikut
Muhammad bin Abdul Wahhah ini,
dinamakan juga gerakan “Wahabi”.
2. Rifa’ah Badawi Rafi’ At-
Tahtawi, atau At-Tahtawi, lahir di
Tahta pada tahun 1801 M dan
meninggal di Mesir. Pemikirannya
yang berkaitan dengan ajaran
Islam, antara lain, beliau
menyerukan agar umat Islam
dalam hidup di dunia ini tidak
hanya mementingkan urusan
akhirat, tetapi juga harus
mementingkan urusan dunia, agar
umat Islam tidak dijajah oleh
hangsa lain.
3. Jamahiddin Al-Afghani, lahir di
Asadabad tahun 1838 M dan
wafat di Istanbul rahun 1897 M.
Di antara pemhaharuan pemikiran
yang dimunculkan beliau adalah :
o Agar kejayaan umat Islam
dapat diraih kembali dan
mampu menghadapi dunia
modern, umat Islam harus
kembali kepada ajaran
agamanya yang murni dan
harus memahami Islam
dengan rasio dan kebebasan.
o Jamaluddin menginginkan agar
kaum wanira juga meraih
kemajuan dan bekerja sama
dengan pria untuk
mewujudkan masyarakat
Islam yang dinamis dan
maju.
o Kepemimpinan otokrasi
hendaknya diubah menjadi
demokrasi Menurut
pendapatnya Islam
menghendaki pemerintahan
republik yang di dalamnya
terdapat kebebasan
mengemukakan pendapat dan
kewajiban negara untuk
tunduk kepada undang
undang.
o Ajarannya tentang Pan-
Islamisme yakni persatuan
dan kerjasama seluruh umat
Islam harus diwujudkan.
Karena persatuan dan kerja
sama seluruh umat Islam
sangat penting dan di atas
segalanya.
Selain tokoh-tokoh
pembaharuan tersebut, masih banyak
lagi tokoh-tokoh pembaharuan lainnya,
seperti Muhammad Abduh di Mesir
(1849-1905 M), Muhammad Rasyid
Ridla (1865-1935 M), Sayid Ahmad
Khan di India (1817- 1898 M), dan
Muhammad Iqbal di Pakistan
(1876-1938 M).
Pada masa pembaharuan jumlah
penduduk beragama Islam berkembang
terus ke seluruh pelosok dunia.
Penduduk Muslim terbanyak terdapat di
Benua Asia dan Afrika. Mengacu
kepada data penduduk tahun 1991 M,
negara-negara yang penduduk
Muslimnya lebih dan 90 % adalah
Mauritania, Sahara Barat, Maroko,
Aijazair, Tunisia, Libia, Mesir, Somalia,
Turki, Irak, Yordania, Arab Saudi,
Yaman, Oman, Qatar, Bahrain, Iran,
Afghanistan, dan Pakistan.
Sedangkan negara-negara yang
jum!ah umat Islamnya mencapai 50—
90 % adalah Tanzania (Afrika),
Turkemenistan, Uzbekistan, Kirghistan,
Tajikistan (Rusia), Bangladesh,
Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei,
dan Kepulauan Mindanou di Filipina.
Negara-negara yang umat Islamnya 10
—50 % antara lain seperti Guinea
(Afrika), Albania, Suriah, India, Gina,
dan Myanmar.
Untuk mengikat negara-negara
Islam di seluruh dunia, pada bulan
Zulhijjah tahun 1381 H (Mei 1962),
telah didirikan Rabithah Al-Alam Al-
Islami (Muslim world League atau Liga
Dunia Islam) sebuah organisasi Islam
internasional non-pemerintah yang
tidak berpihak kepada suatu partai atau
golongan dan mewakili umat Islam
sedunia. Liga Dunia Islam ini
berkantor pusat di Mekah (Saudi
Arabia), sedangkan kantor
perwakilannya tersebar di seluruh dunia,
seperti Indonesia, Amerika, Kanada,
Denmark, Malaysia, dan Prancis.
Di Benua Eropa dalam
Conference of Islamic Cultural Centre
and Organization of Europe
(Konferensi Pusat Kebudayaan dan
Organisasi Islam Eropa) di London
pada bulan Mei 1973, dengan
diprakarsai oleh Sekretariat Islam di
Jeddah telah didirikan Dewan Islam
Eropa, yang bertujuan untuk
mengorganisir dan memajukan usaha-
usaha dakwah islamiah.
C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada
Masa Modern
Pada masa pembaharuan,
perkembangan ilmu pengetahuan
mengalami kemajuan. Hal ini dapat
dilihat di berbagai negara, seperti
Turki, India, dan Mesir.
Sultan Muhammad II
(1785-1839 M) dan kesultanan Turki
Usmani, melakukan berbagai usaha agar
umat Islam di negaranya dapat
menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Usaha-usaha tersebut
seperti :
1. Melakukan modernisasi di bidang
pendidikan dan pengajaran, dengan
memasukkan kurikulum
pengetahuan umum kepada
lembaga-lembaga pendidikan
Islam (madrasah).
2. Mendirikan Lembaga Pendidikan
“Mektebi Ma’arif’, untuk
mencetak tenaga-tenaga ahli di
bidang administrasi, juga
membangun lembaga “Mektebi
Ulumi Edebiyet,” untuk
menyediakan tenaga-tenaga ahli di
bidang penterjemah.
3. Mendirikan perguruan-perguruan
tinggi di bidang kedokteran,
militer, dan teknologi.
Setelah kesultanan Turki
dihapuskan pada tanggal 1 November
1923 M, dan Turki diproklamirkan
sebagai negara berbentuk Republik
dengan Presiden pertamanya Mustafa
Kemal At-Turk, pendiri Turki Modern
(1881-1938M), maka kemajuan Turki
di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi terus meningkat. Di India
ketika masih dijajah Inggris, telah
bermunculan para cendekiawan Muslim
berpikiran modern, yang melakukan
usaha-usaha agar umat Islam mampu
menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga dapat melepaskan
diri dari belenggu penjajah. Para
cendekiawan Muslim dimaksud, seperti
Syah Waliyullah (1703-1762 M), Sayid
Ahmad Khan (1817-1898 M), Sayid
Amir Ali (1849-1928), Muhammad
Iqbal (1873-1938 M), Muhammad
Ali Jinnah (1876-1948 M), dan
Abdul Kalam Azad (1888-1956 M).
Di antara cendekiawan Muslim
tersebut, yang besar jasanya terhadap
umat Islam di India adalah Sayid
Ahmad Khan.
Setelah India dan Pakistan
merdeka dari Inggris pada tahun 1947
M, umat Islam terbagi dua, ada yang
masuk ke Republik Islam Pakistan dan
ada juga yang tetap di India ± 40 juta
jiwa. Umat Islam di kedua negara
tersebut terus berusaha meningkatkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, agar
kualitas hidup mereka meningkat ke
arah yang lebih maju.
Pada masa pembaharuan,
terutama setelah ekspansi Napoleon ke
Mesir (1798 M), umat Islam Mesir,
khususnya para penguasa dan kaum
cendekiawannya menyadari akan
keterbelakangan mereka dalam urusan
dunia jika dibandingkan dengan bangsa-
bangsa Eropa. Oleh karena itu, mereka
melakukan berbagai usaha agar
menguasai berbagai ilmu pengetahuan
dan teknologi yang telah dimiliki oleh
bangsa-bangsa Eropa.
Muhammad Ali, penguasa
Mesir tahun 1805-1849 M,
mengirim para mahasiswa untuk
mempelajari ilmu pengetahuan dan
teknologi ke Prancis. Setelah kembali ke
Mesir, mereka mengajar di berbagai
perguruan tinggi, terutama di
Universitas A1-Azhar. Karena yang
belajar di Universitas A1-Azhar ini
bukan hanya para mahasiswa Islam dan
Mesir, tetapi para mahasiswa dan
berbagai negara dan wilayah Islam, ilmu
pengetahuan dan teknologi yang
diajarkan di Universitas Al-Azhar ini
pun dengan cepat menyebar ke seluruh
dunia Islam. Selain Universitas Al-
Azhar, di Mesir telah didirikan
universitas-universitas, yang di
dalamnya terdapat berbagai fakultas
seperti: Kedokteran, Farmasi, Teknik,
Pertanian, Perdagangan, Hukum, dan
Sastra. Universitas-universitas
dimaksud adalah Universitas
Iskandariyah di kota Iskandariyah,
Universitas Ainusyams (1950 M) di
kota Kairo, Universitas Hilwan,
Universitas Assiut (1957 M),
Universitas Suez (1976 M), dan
Universitas Amerika yang bernama
“The American University in Cairo
(AUC)”, yang didirikan bagi orang
Mesir dengan tenaga pengajar dari
Amerika.
Biografi Sayid Ahmad Khan
Sayid Ahmad Khan lahir di
Delhi (India), pada tanggal 17 Oktober
1817 M dan wafat juga di Delhi tahun
1898 M. Masa mudanya dipergunakan
untuk mempelajari berbagai macam
ilmu pengetahuan, yaitu ilmu
pengetahuan tentang Islam, bahasa
Persia, bahasa Arab, Matematika,
Mekanika, Sejarah dan berbagai cabang
ilmu pengetahuan lainnya. Atas jasa-
jasanya kepada lnggris pada tahun 1869
M beliau diberi kesempatan untuk
berkunjung ke Inggris. Kesempatan itu
dimanfaatkannya untuk mengadakan
penelitian tentang sistem pendidikan
dan pengajaran serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di Inggris.
Jasa-jasa Sayid Ahmad Khan antara
lain :
o Sumbangan pemikirannya yang
modern, yang menyatakan bahwa
umat Islam terbelakang, bodoh,
miskin, dan dijajah, karena mereka
tidak memiliki ilmu pengetahuan dan
teknologi modern yang dimiliki oleh
bangsa-bangsa Eropa.
o Untuk merealisasikan idenya tersebut
Sayid Ahmad Khan mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan dan
ilmu pengetahuan, seperti Sekolah
Inggris di Mudarabad tahun 1861
M, lembaga penterjemah ilmu
pengetahuan modern ke dalam bahasa
Urdu yang disebut dengan nama
lembaga “The Scientific Society”
atau “Translation Society” dan
mendirikan sekolah Muhammaden
Anglo Oriental College (MAOC)
pada tahun 1878 M, yang kemudian
berkembang menjadi “Muslim
University Of Aligar”. Untuk
keseragaman pendidikan bagi umat
Islam India, Sayid Ahmad Khan
pada tahun 1886 M membentuk
Muhammedan Educational
Conference. Sumbangan pemikiran
Sayid Ahmad Khan yang bersifat
politis, beliau menyatakan bahwa umat
Islam tidak mungkin bersatu dengan
umat Hindu dalam satu negara,
karenanya umat Islam India harus
mempunyai negara sendiri terpisah
dari umat Hindu.
D. Perkembangan Kebudayaan Islam pada
Masa modern
Kebudayaan umat Islam pada
masa pembaharuan berkembang ke arah
yang lebih maju. Hal ini dapat dipelajari
di berbagai negara Islam atau negara
yang berpenduduk mayoritas umat
Islam, seperti Saudi Arabia, Mesir,
Irak, Iran, Kuwait, Pakistan, Malaysia,
Brunei, dan Indonesia.
1.   Arsitektur
Arsitektur ada yang
berfungsi melayani keagamaan,
seperti masjid, makam, madrasah
dan ada pula yang berfungsi
melayani kepentingan sekuler,
seperti istana, benteng, pasar,
karavan serai (sejenis hotel),
jalan-jalan raya, rel-rel kereta
api, dan banyak lagi lainnya.
Setelah ditemukannya
ladang minyak pada tahun 1933,
Saudi Arabia tidak lagi sebagai
negara miskin tetapi termasuk
salah satu negara kaya. Dengan
kekayaannya yang melimpah, Saudi
Arabia banyak membangun jalan
raya antarkota, jalan kereta api
antara Kota Riyad dengan Kota
Pelabuhan Ad-Dammam di pantai
Teluk Persia. Juga membangun
Maskapai Penerbangan
Internasional (Saudi Arabia Air
Lines) di Jeddah, Zahran, dan
Riyad. Di bidang perhotelan telah
dibangun hotel-hotel mewah
bertaraf internasional, antara lain
terdapat di sekitar Masjidil Haram
Mekah dan Masjid Nabawi
Madinah.
Masjidil Haram artinya
masjid yang dihormati atau
dimuliakan. Masjid ini berbentuk
empat persegi terletak di tengah-
tengah kota Mekah, serta
merupakan masjid tertua di dunia.
Di tengah-tengah masjid itu
terdapat Ka’bah, yang juga disebut
Baitullah (Rumah Allah) dan
Baitul Atiq (Rumah
Kemerdekaan), yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT sebagai
kiblat umat Islam di seluruh dunia
dalam mengerjakan salat. Selain
itu, terdapat pula Hajar Aswad
(batu hitam yang terletak di
dinding Kakbah), makam Ibrahim,
Hijr Ismail, dan sumur Zamzam
yang letaknya tidak jauh dan
Kakbah.
Keadaan Masjidil Haram
pada masa Nabi Muhammad SAW
masih hidup, dengan keadaan
Masjidil Haram sekarang ini jauh
berbeda. Pada masa Nabi SAW
masih hidup, keadaan Masjidil
Haram tidak begitu luas dan
bersifat sederhana. Sekarang ini,
keadaan Masjidil Haram sangat
luas dan merupakan bangunan yang
begitu megah dan indah. Masjidil
Haram sekarang ini berlantai
empat yang untuk naik dan lantai
dasar ke lantai di atasnya sudah
disediakan eskalator.
Masjid Nabawi adalah
sebuah masjid yang megah dan
indah juga sangat luas. Kalau pada
masa Nabi Muhammad SAW luas
Masjid Nabawi ± 2.500 m 2 kini
luasnya menjadi ± 165.000 m 2
(luas seluruh kota Madinah pada
masa Rasulullah SAW). Hal ini
mengakibatkan makam Nabi
Muhammad SAW, Abu Bakar
r.a., dan Umar bin Khatthab r.a.
yang dulu berada di luar masjid
sekarang berada di dalam masjid.
Demikian juga tempat pemakaman
umum (maqbarah) baqi yang dulu
berada di pinggir kota Madinah,
sekarang ini berada di samping
atau di pinggir halaman masjid.
Masjid Nabawi bertambah
indah dan megah dengan adanya
sepuluh buah menara yang
menjulang tinggi, 95 buah pintu
masjid yang lebar dan indah. juga
kubah masjid yang dapat terbuka
dan tertutup.
Selain itu, pada atap
Masjid Nabawi bagian belakang
yaitu di atas pintu Al-Majidi dari
sebe!ah barat memanjang ke
timur, telah dibangun tingkat dua
yang dimanfaatkan untuk
perkantoran, perpustakaan.
gudang, peralatan dan selebihnya
digunakan sebagai tempat salat,
apabila jamaah di lantai bawah
terlalu padat. Perlu pula diketahui
bahwa seluruh ruangan dari lantai
bawah (dasar) Masjid Nabawi
sekarang ini memakai pendingin
ruangan (AC).
Arsitektur yang berfungsi
untuk melayani kepentingan agama
dan kepentingan sekuler, selain
terdapat di Saudi Arabia, juga
terdapat di negara lain, terutama
di negara berpenduduk mayoritas
Islam. Misalnya di Turki
sekarang ini memiliki tidak kurang
dari 62.000 masjid dan
pembangunan masjid mencapai
1.500 buah per tahun. Selain itu,
telah dibangun lebih dari 2.000
unit sekolah Al-Qur’an.
Di Iran ketika Dinasti
Qatar berkuasa (pada tahun
1794-1925) telah dibangun kota
Teheran sebagai ibukota Iran
(dibangun pada abad ke-18 M).
Perkembangan kota ini sangat
pesat, terutama pada masa
kekuasaan Dinasti Pahlevi
(1925-1979). Sekarang ini
Teheran merupakan salah satu
kota terbesar di Asia. Bangunan
arsitektur peninggalan Dinasti
Qatar antara lain :
Þ Istana Niavarand, tempat
kediaman Syah Muhammad
Reza Pahlevi dan
keluarganya.
Þ Pekuburan Behesyti
Zahra’ (bahasa Persia yang
artinya Taman Zahra, putri
Rasulullah SAW). Pekuburan
ini tempat dimakamkannya
puluhan ribu syuhada
(pahlawan) Revolusi Islam.
Di pekuburan ini juga
dimakamkan pemimpin
Revolusi Islam Ayatullah
Khomaeni (wafat 1989 M).
Pada masa pembaharuan
di Irak, selain terdapat arsitektur
yang berfungsi melayani
keagamaan, seperti masjid,
madrasah, dan makam, juga
terdapat arsitektur yang berfungsi
melayani kepentingan sekuler
misalnya bangunan-bangunan
industri, jalan kereta api yang
menghubungkan Basrah dan
Bagdad. jalan-jalan yang beraspal
antarkota, dua bandara
internasional di Basrah dan
Bagdad, serta dua pelabuhan
internasional di Basra dan Um
Al-Qasar.
2. Sastra
Pada masa pembaharuan
telah bermunculan para sastrawan
yang karya-karya sastranya
bersifat islami di berbagai negara,
misalnya :
Þ Seorang sastrawan dan
pemikir besar, menjelang
abad ke-20 telah lahir di
Pakistan (1877-1938)
yang bernama Muhammad
Iqbal. Beliau telah
mengungkapkan filsafatnya
dalam bentuk puisi dengan
menggunakan bahasa Urdu
dan Persi. Dan karya
puisinya, yang penting adalah
Asrari Khudi, di samping
karya filsafatnya yang
berjudul “The
Reconstruction of Religious
Thoughs in Islam” (kedua
buku ini sudah diterjemahkan
dan diterbitkan dalam
Bahasa Indonesia). Beliau
juga telah menulis beberapa
prosanya dalam Bahasa
Inggris dan Arab.
Þ Mustafa Luffi Al-Manfaluti
(1876-1926) seorang
sastrawan dan ulama Al-
Azhar (Mesir) termasuk
pengarang cerita pendek
bergaya semi klasik dan semi
modern.
Þ Dr. Muhammad Husain
Haekal (1888-1956)
pengarang Mesir terkenal,
yang telah menulis Hayatu
Muhammad (Sejarah Hidup
Nabi Muhammad SAW, telah
terbit dalam terjemahan
Bahasa Indonesia) adalah
juga seorang sastrawan dan
dianggap perintis karya
sastra modern setelah
novelnya yang berjudul
Zainab terbit tahun 1914.
Beliau juga banyak menulis
kritik sastra dan cerita
pendek.
Þ Jamil Siqdi Az-Zahawi
(1863-1936) di Irak
terkenal sebagai perintis
sajak modern dan seorang
penyair tua yang bernada
keras dan dikenal sebagai
pembela hak-hak wanita
bersama-sama dengan
Ma’ruf Ar-Rasafi
(1877-1945).
Þ Abdus Salam Al-Ujaili
(lahir 1918) adalah seorang
sastrawan di Suriah yang juga
seorang dokter medis, aktif
dalam penulisan novel dan
cerita pendek.
Þ Peranan perempuan dalam
perkembangan sastra
modern ternyata tidak
banyak. Dari yang sedikit
itu, misalnya Binti Syati’
yang sebenarnya bernama
Aisyah Abdurrahman. Beliau
meraih gelar doktor dalam
sastra klasik, terkenal
sebagai sastrawati, wartawati
dan editor harian Al-Ahram
Mesir. Selain itu, beliau
banyak menekuni Al-Qur’an,
lalu menulis tafsir Al-
Qur’an dari segi sastra.
Sastrawati lainnya seperti
Fatwa Tawqan dan Nazek
Al-Malaikah (Palestina)
serta Layla Ba’albaki
(Lebanon).
3. Kaligrafi
Kata kaligrafi berasal dan
Bahasa Yunani : kaligrafia atau
kaligraphos. Kallos berarti indah
dan grapho berarti tulisan. Jadi,
kaligrafi berarti tulisan (aksara)
indah yang mempunyai nilai
estetis. Dalam Bahasa Arab
kaligrafi disebut khatt, yang dalam
pengertian sehari-hari berarti
tulisan indah yang memiliki nila
estetis.
Kaligrafi (khatt)
merupakan satu-satunya seni
Islam, yang murni dihasilkan oleh
orang Islam, berbeda dengan seni
Islam lainnya seperti seni lukis
dan ragam hias yang terpengaruh
unsur non-Islam.
Kaligrafi terdiri dari
bermacam-macam gaya antara
lain enam macam gaya yang
disebut Al-Aqlam As-Sittah (The
Six Hands/Styles).
Seni kaligrafI berkembang
sangat cepat ke seluruh pelosok
dunia, khususnya ke negara-negara
yang penduduknya mayoritas umat
Islam seperti Indonesia.
Seni kaligrafi dipakai
sebagai hiasan di masjid-masjid,
penyekat ruang, hiasan dinding
rumah, kotak penyimpanan
perhiasan, alat-alat rumah tangga
dan lain-lain. Media yang
digunakannya pun beragam yakni
dan kertas, kain, kulit, kaca,
emas, perak, tembaga, kayu, dan
keramik.
Perhatian umat Islam
Indonesia terhadap seni kaligrafi
cukup bagus. Hal in ditandai antara
lain :
ü Diadakannya pameran
lukisan kaligrafi bertaraf
nasional, yakni pada
acara MTQ Nasional XI
di Semarang (1979),
pada Muktamar Pertama
Media Massa Islam
sedunia di Jakarta
(1980), pada MTQ
Nasional XII di Banda
Aceh (1981), dan pada
pameran kaligrafi Islam
di Balai Budaya Jakarta
dalam rangka
menyambut tahun baru
Hijriah 1405 (1984).
ü Diselenggarakannya
Musabaqah Khatt Indah
Al-Quran (MKQ)
dalam setiap MTQ.
MKQ ini mulai
diselenggarakan pada
MTQ Nasional XII di
Banda Aceh (1981)
dan MTQ Nasional
XIII di Padang (1983).

Source : PAIsman1PrambananKlaten.blogspot.com

Published with Blogger-droid v2.0.10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar